Tentang Zuhud

Cerita ni ye... Risma punya rumah mewah N mobil baru.. pokoknya serba punya. 
Nah... dapatkah berzuhud dalam kondisi seperti itu ? 
========= 
Nah posting yang paling atas. 
Yaitu tentang berjalanya rukhani. 
Tidak akan berjalan rukhani jika tidak zuhud atau keluar dari sifat basyariah yang rusak atau yang tercela. 
Nah kesimpulanya. 
Yaitu harus meneliti sifat sifat ke aiban diri. 
Bisa di katakan juga ngresiki ati dari sifat yang tercela. 
Jika di kitab minhajul abidin di sebutkan yaitu maqom taubat. 
Nah jika semua itu telah di laksanakan, 
Maka akal rukhani akan berjalan. 
Dan cirinya salah satunya akan zuhud. 
Dan secara langsung akan memiliki rasa tidak menyukai perkara2 dunya. 
Dengan begitu sedikit demi sedikit tempelan2 atau lukisan yang menempel di hati satu persatu akan nyoplok. 

Berzuhud itu. 
Tidak terhalang antara miskin atau kaya. 
Contoh kanjeng nabi sulaiman kaya. 
Tapi zuhud dan ma,rifat. 
Bukan berarti jika miskin tak memiliki harta lantas dia di katakan zuhud. 
Jawabnya belum tentu. 
Nah sebaliknya jika sese,orang itu kaya raya apakah dia tidak bisa zuhud. 
Jawabnya belum tentu. 
Nah salah satu jalan untuk mencapai kesempurna,an dari pada iman yaitu zuhud. 
Belum sempurna iman jika tak zuhud. 

Zuhud cah ayu. 
Hehehehehe 
Ringkesnya saja ya. 
Zuhud ini adalah bagian rasa hati/tingkah hati. 
Jadi si hati sudah tidak condong lagi pada perkara2 dunya atau tergiur keindahan dunya maksudnya rasa hati sudah tak menginginkan perkara dunya. 
Meski kaya banyak harta atau banyak istri tapi tidak nempel atau membekas di hati. 
Tapi jika si miskin tak punya harta, 
Tapi rasa hatinya ingin selalu menginginkan ini dan itu pada perkara dunya dan menginginkan mencita citakan perkara dunya. 
Yang demikian ini tidak di katakan zuhud. 

Bahasa singkatnya si hati tidak merasa memilki apa lagi mengakui atau mengingini. 

Itulah zuhud, bisa diibaratkan dengan seorang tukang parkir, walaupun banyak kendaran di tempat parkirnya, tp ga merasa memiliki N merasa sombong dengan banyaknya kendaraan, karena ia merasa dititipi..., andai semua kendaraanya hilang dibawa oleh sang punya kendaraan, ga pernah merasa kehilangan, apalagi stres. 

Satu lagi harus tertanam. 
Jika belum tertanam harus di tanamkan cita cita. 
Atau himah yang kuat. 
Yaitu cita cita ingin berjalan wushul kepada Allah. 
Ma,rifat kepada Allah. 

Menurut istilah zuhud adalah berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akherat. 

Pak dipo. 
Hehehehehe 
Sunyum ah. 
Betul intinya rasa hati berpaling dari perkara2 dunyawi. 
Dan berangkat menuju ukhrawi. 
Begitukah pak dipo cinta. 
Hehehehehe 
Senyum lagi ah. 

Tapi ada tapinya pak dipo cinta. 
Se,orang yang zuhud itu ada cirinya. 
Yaitu jika harta atau sesuatu yang di senangi oleh jiwanya. 
Lalu hilang atas dirinya si zuhut tak sedikitpun merasa kehilangan atau ngersulo. 
Hehehehehe 
Jika masih ada memang berjalan pada zuhud tapi belum sempurn zuhudnya. 
Mudah mudahan. 
Kita semua di zuhudkan oleh Allah, 
Aamiin. 

1. Meninggalkan sesuatu karena menginginkan sesuatu yang lebih baik dari padanya 
2. Meninggalkan keduniaan karena mengharap sesuatu yang bersifat keakheratan 
3. Meninggalkan segala sesuatu selain Allah karena terlalu mencintai-Nya 

Sesungguhnya orang-orang yang zuhud di dunia, hati mereka menangis walaupun mereka tertawa, kesedihan mereka bertambah walaupun mereka berbahagia, dan mereka membenci diri mereka walaupun mereka senang dengan rezeki yang dikaruniakan kepada mereka.. 

Zuhud itu salah satu akhlak utama seorang muslim. Terutama saat di hadapannya terbentang lebar kesempatan untuk meraih dunia dengan segala macam perbendaharaannnya. Apakah itu kekuasaan, harta, kedudukan, dan segala fasilitas lainnya. Karenanya, zuhud adalah karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia. 

Jadi kesimpulanaya. Apa yang telah saya sbutkan. Yang harus di perhatikan atau di pentingkan oleh murid atau salik. Seperti yang sudah di bahas ada empat. 
1 amal dan ilmu. 
2,memutus semua/segala ketergantunga kepada selain Allah. Dan hanya bergantung kepada Allah saja. 
3. Meneliti ke aiban/cela diri. Lebih jelas lagi. Harus keluar dari sifat basyariah yang tercela. 
4.harus tertanam himah/di tanamkan himah yang kuat. 
Untuk menuju berjalan/atau ma,rifat kepada Allah. 

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. 

Demikian juga ketika Rasulullah saw., ingin membawa para sahabatnya pada sikap zuhud, beliau memberikan panduan bagaimana seharusnya orang-orang beriman menyikapi kehidupannya di dunia. Rasulullah bersabda, ”Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir.”(HR Bukhari). 

Hal yang berkaitan dengan zuhud ada 6 perkara. Seseorang tidak berhak menyandang sebutan zuhud sehingga bersikap zuhud terhadap 6 perkara tersebut, yaitu; harta, rupa (wajah), kedudukan (kekuasaan), manusia, nafsu, dan segala sesuatu selain Allah. Namun demikian, ini bukan berarti menolak kepemilikan terhadapnya. Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. adalah orang yang paling zuhud di zamannya, tetapi memiliki banyak harta, wanita, dan kedudukan. 

Nabi Muhammad saw. adalah nabi yang paling zuhud, tetapi juga punya beristri lebih dari satu. Sembilan dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga tanpa hisab, kecuali Ali bin Abi Thalib, semuanya kaya raya, tetapi pada saat yang sama mereka adalah orang yang paling zuhud. Mereka adalah Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdurahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqqas, dan Said bin Abdullah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah sahabat yang paling zuhud. Meskipun demikian ketika meninggal dunia, beliau meninggalkan 21 wanita: 4 orang istri merdeka dan 17 budak wanita. 

Tragisnya lagi, kepemimpinan dunia saat ini dikuasai oleh orang-orang kafir. Sehingga, kerusakannya sangat dahsyat. Jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Pola hidup materialisme mendominasi di hampir semua lapangan kehidupan. Tolok ukur kesusesan diukur dari sejauh mana berhasil meraup sebanyak-banyak materi, tanpa memperhatikan ukuran agama dan moral. Maka berlomba-lombalah setiap orang menjual diri dan harga diri untuk meraih sebanyak-banyaknya materi. Dan mayoritas umat Islam terimbas budaya materialisme itu. Pola hidupnya mirip dengan orang kafir sehingga terjadilah kerusakan yang sangat dahsyat. Realitas seperti inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya dimana umat Islam terkena virus wahn (cinta dunia dan takut mati) dan berpola hidup materialisme hampir sama dengan orang kafir. 

Cinta dunia dan rakus terhadap harta adalah penyakit yang paling berbahaya. Segala bentuk kejahatan bermuara dari kerakusan terhadap dunia dan pola hidup materialisme: perzinaan dan seks bebas, penjualan bayi, narkoba, perjudian, riba, korupsi, dan lain sebagainya. Karenanya, Rasulullah saw. mengingatkan akan bahaya rakus terhadap harta, ”Tidaklah dua serigala lapar yang dikirim pada kambing melebihi bahayanya daripada kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan.” (HR At-Tirmidzi)
◄◄●════════◄●►════════●►►