Sabar dan Syukur

Assalamu'alaikum wr wb sahabat dan rekan dalam Grup ini
Dua kata di atas merupakan kata yang sering diucapkan dan disarankan jika seseorang mendapatkan nikmat atau musibah. Sesungguhnya dua kata itu adalah pasangan sikap yang digolongkan sebagai salah satu bekal hidup seorang muslim dalam mengarungi kehidupan. Namun sering kali kedua kata itu mengalami banyak pengurangan makna sehingga artinya menyempit. Dengan membawa arti yang telah menyempit itu, seseorang menjadi lupa akan fungsinya sebagai bekal hidup, padahal hidup itulah sebenar-benarnya cobaan. Jika nafas terakhir telah dihembuskan, maka cobaan itu baru telah berakhir.

Jika hidup itu merupakan cobaan, maka cobaan dalam kehidupan itu sebenar-benarnya terdiri dari dua bagian pula, yakni sesuatu yang tidak mengenakkan yakni musibah, dan sesuatu yang mengenakkan yakni nikmat. Sebenar-sebenarnya diantara keduanya, nikmat itu selalu tak terputus dalam kehidupan, salah satu contoh saja: selama hidup tentu hampir tak terputus kenikmatan yang sangat dekat dengan kelopak mata kita, yakni oksigen yang masuk melalui kedua lubang hidung. Sedangkan musibah datangnya tidak menentu atau terputus-putus. Saya rasa tidak terlalu penting untuk memberikan contoh untuk pernyataan itu. Namun yang terpenting adalah SERING TERJADI SALAH KAPRAH yang diakibatkan manusia tidak menggunakan segenap akal fikirannya atau belajar yang mengakibatkan dua pengertian yang salah yakni: pertama, bahwa cobaan itu hanyalah sesuatu yang tidak mengenakkan atau musibah saja. Jika musibah itu telah lewat dan tidak datang lagi baik dalam bentuk yang sama atau lainnya, maka dianggap tidak ada cobaan dalam hidup, padahal cobaan berupa nikmat itu terus mengalir deras dalam kehidupan. Coba simak ayat berikut ini:

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”
(Al-Anbiya’: 35)

Kedua, terjadi salah pengertian bahwa di antara kedua jenis cobaan itu musibah adalah yang berat. Sesungguhnya tidak, nikmat juga adalah cobaan yang berat karena rentan menimbulkan lupa dan menjauhkan diri dari Tuhannya, bahkan jika manusia itu semakin parah merespon nikmat itu dengan gelimang dosa, maka tidak disadari bahwa nikmat itu sebenarnya telah berubah menjadi istidraj. Simaklah arti istidraj seperti ini:

dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.
(Surah Al-A’raf:182)

Kalimat yang berwarna merah itulah arti istidraj. Jika Allah men-Istidrajkan hambanya membawa arti/makna setiap kali hambaNya (insan) membuat/ menambah/ membaharui kesalahan yang baru maka setiap kali itu juga Allah akan membuat/ menambah/ membaharui nikmatNya ke atas hambaNya itu dan setiap itu juga Allah membuatkan hambaNya itu lupa untuk memohon ampun atas dosa yang dilakukan terhadapnya (dibiarkan bergelimang dosa) dan setiap itu juga Allah akan mengambilnya sedikit demi sedikit(ansur-ansur) dan Allah tidak mengambilnya dengan cara yang mengejutkan!

Wa'allaikum salam wr.wb. met pgi pak ustadz...banyak orang bsa bersabar dan ta'bah dlm kehidupannya sesuatu masalah cobaan dan godaan dlm hidup,namun kebanyakan orang lupa bersyukuri dan takabur atas nikmat yg ALLAH berikan pd hampa NYA,smoga orang yg demikian cepat menyadari dan bisa bersyukur atas ke agungan dan nikmat yg IA berikn ROBBY berikan.
►════════●►►

Sebagai salah sifat atau akhlak yang terpuji, sabar dan syukur merupakan ajaran yang banyak sekali disinggung dalam ayat maupun hadits Rasululloh saw, sehingga dengan demikian, manusia senantiasa diarahkan untuk tetap bersikap sabar dan syukur dalam segala aspek kehidupannya. Dalam prakteknya, kesabaran yang sebenarnya adalah kemampuan dalam mengendalikan sikap, sehingga bisa dengan ikhlas dan rela hati menerima kondisi yang dihadapinya saat.

Seseorang yang penyabar pada prakteknya tergambar dalam sikapnya yang rela menunda kesenangan sesaat, demi meraih kebahagiaan dalam jangka panjang.
Seseorang yang memiliki kesabaran yang tinggi, akan memiliki ketangguhan dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan hidup yang menghadangnya. Sebab kesabaran itu merupakan kekuatan dahsyat yang amat besar bagi seseorang yang ingin meraih sukses dalam kehidupan. Hampir seluruh aspek kehidupan membutuhkan kesabaran, dan sikap sabar merupakan salah satu “akhlak Qur’ani” yang paling banyak dibicarakan dalam al-Qur’an. Menurut Imam Al-Ghazali ada 70 kali Al-Qur’an menyebutkannya,

Menurut Ibnul Qayyim 90 kali, bahkan menurut al-Nadhir 100 kali sikap sabar ini disebut-sebut dalam Al-qur’an. Itu memberi tanda bahwa sabar merupakan amalan paling utama yang menentukan keberhasilan hidup dan aktivitas manusia.

Islam tidak mengenal batas dalam kesabaran, sebagaimana sering dijadikan alasan oleh sebagian orang untuk melegalkan perbuatannya diluar batas kesabaran. Dalam Islam ditekankan bahwa setiap mukmin harus tetap dalam kesabaran agar dapat meningkatkan kualitas mentalnya.

Adapun bentuk kesabaran harus ditunjukkan dengan sikap pantang menyerah, tangguh dan ulet dalam menghadapi berbagai tantangan dan cobaan hidup.

Inilah kesabaran yang nantinya akan membuat seseorang menjadi lebih dekat dengan robbnya, sebagaimana al-Qur’an menyebutkan:
“Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang bersabar”.

Nah,disamping sifat sabar, sikap syukur juga perlu diaplikasikan seseorang dalam hidupnya. Hal ini agar ia menyadari posisinya sebagai makhluk ciptaan Alloh yang harus tunduk dan tidak pantas bersikap sombong dan takabbur dihadapanNya. Kesadaran bersyukur dapat melahirkan sikap rendah hati, tawadhu, terbuka dan memiliki sikap peduli kepada sesama. Sehingga membuka peluang bagi diperolehnya rahmat Alloh swt, dan membuka peluang bagi diperolehnya kebahagiaan dan nikmat dari Alloh, sebagaimana firman Allah swt:

“Jika kamu bersyukur, akan Kutambahkan nikmatKU kepadamu. Akan tetapi jika kamu kufur sesungguhnya azabKU amat pedih”
(Qs 14 Ibrahim: 7)

Dari penjelasan berbagai ayat dan al-Hadist, maka sebenarnya sikap sabar dan syukur jika diamalkan secara dinamis sesuai dengan tuntunan Islam, maka hal tersebut akan mengantar seseorang menjadi hamba Allah yang berpredikat mulia dan bermartabat, serta mendapat lindungan Allah swt. Terkait dengan hal ini, salah satu do’a yang diajarkan Rasulullah saw. adalah sebagai berikut:

“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang sabar, dan jadikanlah aku orang yang bersyukur, serta jadikanlah aku di depan pandanganku kecil, dan di depan pandangan manusia bermartabat “.

Melihat dari urutan do’a seperti yang pohonkan oleh Nabi saw. tersebut diatas, mengindikasikan betapa erat kaitannya antara permohonan supaya menjadi hamba yang bersabar, hamba yang bersyukur dan hamba yang bermartabat mulia.

Kesimpulannya:
Sabar dan syukur sangat dituntut dalam segala aspek kehidupan. Sikap sabar ditunjukkan dengan kerelaan hati menerima kondisi yang dihadapinya saat ini.
Seorang yang memiliki kesabaran yang tinggi, memiliki ketangguhan menghadapi berbagai cobaan.
Dan sikap sabar merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan hidup dan aktivitas manusia. Tidak ada batasan dalam kesabaran, karena kesabaran itu dapat menjadikan seseorang lebih dekat dengan robbnya.
Bagi mereka yang ingin mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi, hendaklah berusaha semaksimal mungkin agar dapat menjalankan sabar dan syukur dengan baik, sebab kedua hal tersebut sangat berpengaruh untuk mengangkat harkat dan martabat seseorang menjadi lebih baik.
◄◄●════════◄●►════════●►►